Kacamata Blue Light: Apakah Membantu Sebagai “Perisai” Mata?

Kemunculan kacamata blue light konon bisa mengurangi kerusakan mata akibat paparan layar digital. Benarkah demikian?

Di masa pandemi, penggunaan layar komputer maupun gawai lainnya meningkat secara drastis. Hal ini direspons dengan kemunculan kacamata blue light yang konon bisa mengurangi kerusakan mata akibat paparan layar digital. Benarkah demikian?

American Academy of Ophthalmology berpendapat bahwa blue light dari gawai tidak serta merta menyebabkan penyakit mata dan bahkan bukan penyebab kelelahan mata. Masalah-masalah terkait mata yang dikeluhkan oleh pengguna gawai sebenarnya disebabkan oleh penggunaan berlebih gawai itu sendiri. Gejala-gejala pada mata yang muncul terkait penggunaan gawai disebabkan oleh berapa lama dan bagaimana kita menggunakan gawai tersebut, bukan blue light yang dipancarkan dari gawai.

Menurut suatu penelitian di Inggris, bukti saintifik terkini menunjukan bahwa kacamata blue light filter tidak meningkatkan ketahanan performa mata, meringankan gejala kelelahan mata atau ketidaknyamanan pada mata maupun kesehatan makula (bagian mata yang sensitif terhadap cahaya). Sebenarnya, mata kita telah menerima blue light bahkan sebelum maraknya penggunaan gawai. Blue light juga dipancarkan oleh matahari. Namun, gawai seperti televisi, komputer, tablet maupun smartphone memang memancarkan blue light dengan panjang gelombang yang lebih pendek dan terang dibanding matahari. Namun, beberapa peneliti menemukan bahwa kacamata blue light filter bisa saja memberikan manfaat bagi penggunanya. Menariknya, manfaat ini dapat dirasakan jika pengguna “merasakan” manfaatnya. Fenomena ini disebut dengan efek plasebo. Efek plasebo adalah efek kebermanfaatan yang dirasakan ketika individu tersebut percaya dengan khasiatnya. Namun, penelitian lain menunjukan bahwa kacamata atau layar dengan blue light filter cukup bermanfaat bagi mereka yang menghabiskan waktu lebih dari 6 jam di depan layar gawai.

Argumen lain terkait manfaat kacamata blue light filter adalah peningkatan kualitas tidur. Para peneliti setuju bahwa blue light yang dipancarkan oleh LED gawai dapat menghambat produksi melatonin, zat pemicu rasa kantuk. Menurut suatu penelitian dari Universitas Houston, mereka yang menggunakan kacamata blue light filter menunjukan peningkatan kadar melatonin hingga 58%.

Jika gejala gangguan mata akibat pengunaan layar digital berlebih menjadi permasalahan utama, maka lebih baik istirahatkan mata secara berkala dibanding memaksakan mata untuk bekerja lebih dengan perangkat mata tambahan. Metode yang bisa diadaptasi adalah aturan 20-20-20: setelah 20 menit menggunakan gawai, alihkan pandangan pada objek berjarak setidaknya 20 kaki (6 meter) dari mata selama 20 detik. Rutinitas ini dapat membantu mengurangi gejala lelah mata akibat penggunaan gawai terlalu lama. Lebih mudah dan murah dibandingkan perangkat mata tambahan bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat WhatsApp
1
Online 24 Jam
Chat sekarang untuk bantuan pengetikan, edit, atau pembuatan dokumen, tugas kuliah, skripsi maupun narasi kreatif berkualitas via WhatsApp ini! Saya siap membantu :)