Lima Cara Untuk Melawan Standar kecantikan Masyarakat

Disadari atau tidak masyarakat memiliki standar kecantikan tersendiri yang diwarisi turun temurun sejak kita kecil. Berbagai macam anggapan mulai dari cantik, tampan, tinggi, pendek dan lainnya kerap dilontarkan begitu saja, tanpa berpikir bagaimana perasaan orang lain ketika mendengar itu. Barangkali tidak banyak yang menyadari mengenai hal ini. Pasalnya, standaryang ada adalah rekonstruksi yang sudah dibentuk oleh masyarakat untuk membuat seorang individu merasa rendah diri.

Darimana Standar kecantikan Muncul?

Standar kecantikan muncul pertama kali ketika industri kecantikan mulai berkembang. Hal ini merepresentasikan bagaimana seorang individu baik itu laki-laki atau perempuan harus memiliki tubuh dan berpenampilan layaknya model yang berada di industri tersebut. Mereka menciptakan bagaimana wujud kecantikan yang layak untuk masyarakat. Mulai dari obat pelangsing tubuh, krim anti keriput, krim pemutih dan lainnya.

Sehingga masyarakat tergerak untuk menjadi duplikat layaknya representasi model yang selama ini ada. Padahal sebenarnya patokan kecantikan itu adalah hal yang mustahil. Mengapa? Karena keberagaman mulai dari ras, suku, agama dan lainnya tentu mempengaruhi tampilan luar dari seorang individu. Hal ini paling sering terjadi pada perempuan, di mana tubuh dan pikirannya selalu dikaitkan pada penampilan fisik saja.

Bagaimana Tips Menghadapi Standar kecantikan Yang Ada?

Untuk kamu yang kerap mendengar pandangan masyarakat mengenai bagaimana standar kecantikan itu harus ada, mulai sekarang ubah mindset mu menjadi lebih baik lagi. Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai tips untuk menghadapi stigma yang kerap disematkan masyarakat pada individu.

Pertama, sadari bahwa kecantikan yang ada itu adalah hasil rekonstruksi masyarakat dan bukan ukuran untuk menilai seseorang berharga atau tidak. Setiap orang adalah berharga. Tidak ada hubungannya dengan kecantikan atau ketampanan yang tampak dari luar. Seringkali tanpa disadari seseorang kerap memberikan asumsi negatif hanya dengan mengambil contoh dari representasi unggul yang ada. Padahal hal tersebut tidak bisa dijadikan ukuran baku untuk menilai seseorang.

Kedua, ketimbang mengkritik diri sendiri, lebih baik buat dirimu nyaman. Biasanya kita kerap membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita kerap mencari kekurangan pada diri sendiri dan berakhir dengan overthinking yang tidak berkesudahan. Hal ini akan mempengaruhi mental kita menjadi down. Selain itu membandingkan diri sendiri tidak akan membuatmu menjadi lebih baik.

Ketiga, tiap individu itu memiliki keunikannya masing-masing. Standarmainstream biasa menginginkan kita akan satu standar universal yang dipercaya bisa diikuti semua orang. Padahal, kecantikan itu bersifat subjektif dan dapat berubah sepanjang waktu. Setiap negara memiliki arti cantik yang berbeda-beda. Jadi, tidak perlu terlalu memikirkan standar yang dilanggengkan hanya pada satu wilayah saja.

Keempat, dengarlah kebutuhan dari tubuhmu. Daripada kamu pusing dengan mengikuti berbagai tren kecantikan yang tidak ada habisnya. Ada baiknya kamu lebih fokus pada diri sendiri dengan mengenali kebutuhan tubuhmu. Kenali tubuh, pikiran dan jiwamu untuk tumbuh berkembang menjadi versi terbaik bagi dirimu sendiri.

Kelima, kamu bisa menghindari orang-orang atau unfollow akun yang kerap membuatmu merasa insecure. Barangkali ini saatnya untuk melakukan detoks media sosial. Apa yang ada di media tidak semuanya baik. Ada begitu banyak influencer yang justru melanggengkan standar kecantikan yang ada sehingga membuat publik mengikuti standar yang tidak realistis.  Temukan circle dan juga akun media sosial yang membicarakan bagaimana caranya menghargai keberagaman bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat WhatsApp
1
Online 24 Jam
Kami sedang online
Butuh bantuan untuk pengetikan, edit, atau pembuatan berbagai jenis dokumen besok langsung jadi? Chat admin sekarang di WhatsApp!